Senin, 14 Agustus 2017

Annabelle: Creation (2017)

You are my sunshine
My only sunshine
You make me happy
You'll never know dear
How much I love you
Please don't take my sunshine away
I'll always love you and make you happy
When skies are gray

Berikut adalah cuplikan lagu Charles McDonald berjudul "You are My Sunshine". Saya yakin kamu familiar dengan lagu ini. Ya, seperti liriknya, film Annabelle: Creation membuat berbagai hal yang lucu dan menyenangkan menjadi sebuah teror.


It won’t amaze you, but you will be panted. Jika kamu pecinta plot with a twist, saya yakin film ini tidak akan masuk daftar favoritmu. Namun, kamu harus tetap menontonnya!
document of Rotten Tomatoes (https://www.rottentomatoes.com/m/annabelle_creation/pictures/)

Why? Karena di titik inilah universe James Wan dimulai. Ketika Marvel Studio sudah lama memiliki universe sendiri dengan gold standard-nya, Disney dengan Star Wars-nya, lalu Universal Studio dengan susah payah membuat penonton sadar dengan Dark Universe-nya, ditambah sederetan film franchise lain, film horor masih memiliki tempat tersendiri bagimu, ya bukan?! Nah, inilah kesempatan sebuah universe non-utopis hadir melalui film-film horror arus utama.

Yap! Saya ucapkan selamat bagi kamu penggemar film horror, kini kalian (baca: kita) punya dunia sendiri seperti freaks and geeks yang lain. Ada banyak hal klise di Annabelle: Creation, mulai dari penggunaan simbol dan tanda, warna coklat lusuh (seperti tulang yang dijemur di bawah matahari???), ruangan terlarang, dan sumur tua (plis atuh lah! The ring teh goreng pisan).

Aspek yang membuat saya begitu nyaman saat menonton film ini adalah pengambilan sudut gambarnya. Well done DOP (director of photographer)! Ya, Maxime Alexandre, I love you since “The Voices”. Banyak momen dimana saya dibuat tenang oleh pengambilan gambar yang Alexandre lakukan. Perpindahan tempat, perpindahan waktu, bahkan sesederhana pergantian dari malam ke pagi, seolah saya tengah menyimak tuturan cerita dari pria idaman saya. I’m so focus and halcyon at the same time. Trust me, kamu akan jarang menemukan momen seperti itu saat menonton film horor.

Ketenangan tersebut dibarengi dengan penempatan jump scare yang apik. Well, saya sudah bilang di awal kalau film ini akan membuatmu ngos-ngosan. Even you’re a manful, you will know what astounding will be. Well you know, thanks to the director, David Sandberg. Tidak familiar dengan namanya? Hm…pernah nonton Lights Out? Nah, yes he is! Penempatan jump scare di film ini sangat menyebalkan (dalam arti positif ya). Bahkan Sandberg membuat hal-hal yang tidak menakutkan menjadi adegan-adegan yang mengejutkan. So thrilling, sampai-sampai kamu lelah sendiri berandai-andai di tiap adegan bertempo pelan. Secara keseluruhan, I’m not impressed, but it’s good to watch. 

[SPOILER ALERT] ya, kamu tahu lah kalau film ini akan memberikan pengetahuan tentang asal-muasal Annabelle. Meski ceritanya tidak memiliki posisi spesial di film ini, saya menyayangkan adanya pemunculan Valak yang kesannya dipaksakan. Jika kamu jeli, I know you all will pay full attention for this, nanti akan ada cerita sekilas Valak yang sebenarnya begitu tidak penting. [SPOILER ALERT] 

Fun Fact! Pemeran di film ini didominasi oleh perempuan. Wohoo! I don’t know, I’m so proud about this. Lalu fakta menarik lainnya adalah, akan ada DUA POST CREDIT di film ini. yap! Akan ada cuplikan The Conjuring 3 (The Crooked Man) dan The Nun. Makanya jangan kemana-mana setelah film selesai ya! Buat kamu yang udah nonton tapi belum liat post credit-nya, nonton lagi gih! hahaha.

What to prepare? Tentunya recalling your memory. Bridging cerita yang kurang enak di film ini membutuhkan ingatan yang kuat. jadi di tengah-tengah menonton film, kamu mungkin akan terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalamu. so you better watch Conjuring and Annabelle (and may be Insidious if you’re not tired) before go to the cinema for Annabelle:Creation. 
Love! Have a nice nightmare pals!

Minggu, 16 April 2017

Major Throwback Live Abroad! Ya, Luar Negeri!


Baru saja nyobain kopi Dumdum yang katanya minuman a la Thailand, but suddenly I feel something weird. The taste is over sweet, a taste I knew before, something familiar. Teringat akhirnya, rasanya sama persis dengan Kopi O Ais, sebutan es kopi manis di Malaysia. Well I hail caffeine but I’m not so into tea, that’s why I try coffee kemanapun saya pergi. Sesaat setelahnya, saya merasa ada rasa kangen. Ya, beberapa memori  selama tinggal di Malaysia tiba-tiba terpanggil kembali di ingatan.

Banyak cerita di negeri jiran itu. Permintaan seorang kawan untuk menulisnya di sini akhirnya saya turuti. Itung-itung distraksi ngerjain skripsi, ya kan. Tidak penting tanggal berapa-tahun berapa, tapi pertanyaan yang tepat adalah how dan why.
a one fine morning, jogging track at uni


Studi
It’s a classic way to start a story but I’ll do it anyway.
Cara Delevigne ever said, “I wish my school days could have dragged on a little longer, or that I could go back and do it later in life.

Di Malaysia, tepatnya di Selangor, saya menjalankan studi selama satu semester di Universiti Putra Malaysia, lets call it uni ok? Uni(versity). Dude, it’s a real Malaysia version of Padjadjaran University. Tempatnya luas, banget. It’s impossible to not late here. Di sini ada bis yang nganter kita kemana aja, even ke mall yang ada di luar kawasan uni. Yeah, you can imagine how huge this uni is.

Jarak fakultas yang lumayan jauh dan terpencar bikin beberapa stigma terhadap “kuliah” jadi ilang di sini. Contoh: Nggak ada aturan maksimal waktu keterlambatan. Students feel free to enter the class! Selain gara-gara alasan jarak kelas yang dipakai memang jauh, the point of studying here is about the knowledge. Dosen nggak pernah protes tentang kehadiran. Malah dosen-dosen di sana selalu nyediain data base materi kuliah, jaga-jaga kalau ada mahasiswanya yang butuh karena nggak masuk kelas.
Porsi tugas? It’s way more reasonable than in Indonesia. Di Indonesia tugas kuliahnya masuk akal kok, makanya aku bilang “more reasonable”…jadi memang lebih masuk akal di sana daripada kuliah aku di Indonesia.

Let’s compare! Di Indonesia biasanya saya dapet tugas individu mingguan, dari tiap mata kuliah. Dari situ udah kebayang kan, tiap hari bakal ngumpulin tugas? Nah, itu belum termasuk tugas kelompok, dan tugas akhir semester yang biasa dikasih sebelum UAS.

Di uni santai, parah! Tugas individu paling banyak 3 per semester, ditambah 1 tugas besar yang dikumpulin akhir semester. Kalau biasanya kita kenal namanya deadline, di uni seolah nggak ada. Ya ada sih deadlinenya, but we can negotiate the teacher to have a little longer more time…yang penting kerjaan kita beres dan bagus. Gara-gara itu, saya merasa waktu sangat dihargai di sini. Waktu bukan jadi ukuran dedikasi seseorang, tapi waktu jadi pengingat sejauh mana kita mempelajari sesuatu. Waktu bukan hal yang ditakuti di sini, dan karena itu saya merasa ilmu di uni benar-benar masuk di otak saya.

Di uni, mahasiswa diperbolehkan untuk nge-drop matakuliah sebelum UAS. Pertimbangannya adalah “nilai”. Jadi kalau mahasiswa ngerasa mata kuliah itu susah, dan ilmunya nggak masuk ke kepala selama satu semester itu, kita dianjurkan buat nge-drop matakuliahnya sebelum UAS, biar nilainya nanti nggak jatuh gara-gara nilai jelek yang bisa aja muncul dari kuliah tadi. Kita nggak usah repot-repot ngeforsir buat belajar kebut semalam, demi nilai mata kuliah yang “terlanjur” diambil. Di Indonesia? Ya kalau nggak ngulang ya, ngulang. It’s just slowing down, not a quit! There’s nothing wrong with it.

Ok let’s end this kind of education system thing, and go to other more fun. Ever heard sorority dorm? Or brotherhood house lyk, kappa tau, zbz etc? Yep, that’s also real in this –I think Malaysia and Indonesia is no different- uni. Saya masuk di sebuah sorority dorm bernama K14. Asrama ini juga biasa disebut “Asrama Serumpun”. Banyak foreigner student yang nggak mau bayar asrama asing (yang terhitung mahal banget itu) akhirnya masuk ke Asrama Serumpun. Karena pelataran parkirnya luas, sering banget pas weekend ada bazaar di sini.

The neighborhood is so nice. Ada banyak tupai dengan santainya lewat. Adem? Enggak sih lebih adem Bandung. Ada gym center. Ada art center. Ada bis uni gratis yang tetep jalan pas weekend. Yes, buat nganter mahasiswanya keluar ke downtown. Café hopping is not too popular here, but the art movement is AWESOME! Banyak banget art showcase, apalagi pertunjukan teater.



Main Teater, Sing, and Dance my body for real!

Due to the slow flow class in uni, saya mencari beberapa klub yang bisa saya ikuti. Remember the trend of 3 Srikandi film in Indonesia? Ya, gara-gara itu saya apply buat archery club. Sayang banget kuota udah penuh. That’s why, back to my sastra-seni-kultur-kind-of interest, I enter the infamous English theater club. Saya di awal nggak berniat gabung ke klub ini karena sebagus itu pamornya. A lot of student break their leg just to get a cameo role for this.
aftershow, could you find me?

Selain mereka rutin bikin showcase, tiap tahunnya ada pertunjukan besar yang biasanya digelar selama 2-3hari. Well I joined the team, dan pas banget semester itu adalah waktu pagelaran akbar. Teater yang saya bawakan adalah Dongeng klasik Gormenghast. It’s an overwhelmed story to bring out, karena Gormenghast sempat diangkat jadi serial sastra di TV.

Saya berperan sebagai Amazon. Tokoh hantu serba tahu yang perannya ngehasut tokoh utama lain biar ngehancurin kerajaan. I’m ok with acting and singing, but dancing in a cloak? I almost break my leg literary.

But it’s paid! Latihan yang berhari-hari itu sesuai dengan hasilnya. Pertunjukan kami selama 2 hari berturut-turut tiketnya sold out. Even we got standing ovation in the end. I’ll miss that day truly.



Talk to me!

Kenapa di uni lebih ngetrend teater bahasa inggris daripada melayu? Because English more popular than melayu or Cantonese, or even Tamil. Tidak banyak terjadi interaksi antara ras satu dengan lainnya, karena kendala bahasa. Banyak chinese-melayu yang tidak bisa bahasa melayu, begitu juga sebaliknya. Apalagi india-melayu. They communicate each other with English, or tarzanese?

That’s ok for me, apalagi saya terhitung foreigner. Selain belajar banyak bahasa sekaligus, saya jadi prihatin dengan Negara saya sendiri, Indonesia. Banyak kini teman-teman saya yang lebih sering menggunakan bahasa Inggris, tanpa tahu padanan kata bahasa Indonesianya. Bahasa daerah apa lagi. Bahkan sudah banyak kawan saya sendiri yang tidak bisa bahasa jawa halus atau krama inggil, yang seharusnya udah jadi identitas lahiriyah.

It’s true guys, even language can be vanished. Jadi biasain pakai bahasa sendiri, tapi juga jangan segan buat belajar bahasa lain. Jsyk, belajar bahasa (sosmed) melayu sangatlah tidak mudah. Let me teach you some:
Cara ketik di sosmed (cara baca) = the fcking meaning of the word
Uolls (yu ol) = you all/ kalian
Xtw (tak tau) = don’t know/ hah?
Dorg (dia orang) = he or she, refer to someone/ dia
Osem (ohsem) = awesome/ wow
Ngat (sangat) = very/ bgt
Jer (je) = just/ aj
Yer (ye) = yes/ y

Well I think you can add “r” to any word and voila! You can speak slang in melayu, seperti halnya menambahkan huruf “h” di tiap kata bahasa Indonesia.



Food

Fooooood!!! Saya menganggap sebuah tempat memberikan kesan jika dan hanya jika ada makanan yang membuat saya memakannya berkali-kali. Tiap kantin di uni, umunya diisi dengan orang-orang Indonesia. Yes! Banyak banget TKI yang kerja jadi penjada kantin di uni. That’s why It feels like home. Makanan paling membuat saya hampir tiap hari jajan adalah COCONUT SHAKE. Sampai-sampai aku kemarin kepikiran buat bikin kedai coconut shake di kampus, tapi nggak sempet-sempet sampai sekarang.

It’s the God’s drink I think. Haha lebay! Coconut shake ini campuran air kelapa, susu, sama eskrim. I love it so much, apalagi cuaca Selangor lagi ekstrim pas itu. Jadi tiap kali lagi panas, coconut shake will be always filled my tumbler.

Second favorite food, ding ding! KEBAB SHAWARMA!!! Siapa yang nggak cinta sama junk food ya kan? Kebab ini yang jual mas-mas tegal yang ngiranya saya lancar bahasa sunda, padahal saya orang jawa. Isi kebab ini banyak banget, such as daging cincang, suwiran ayam, French fries, telor, keju, dan the awesomely infamous saus shawarma, in one big wrap! I can eat this shit like 4 until 7 times a week. Untungnya kamar aku di lantai 5, jadi bisa langsung olahraga abis makan.



Trip, travel, stroll, vakansi, avontur whatever you call it.

Awalnya saya nekat untuk jalan-jalan sendiri. Namun, ya jalannya ke tempat-tempat yang ada di peta. Fortunately I have really kind friends in uni, and they took me to a lot of places. I’ll tell you about it through pictures. So it’s the end! Adios!

The transportation here is so awesomely neat

anyone ever heard genting highland?


Cin Swee Temple is so infamous

yeah I'm a yoga guru

Teenage head records store, a one stop indie music of south east asia

Laman Seni. You'll find it on gmaps!




A fine jogging in Broga hill

There will be a lot of holidays in Malaysia. like this one, it's on Deepavali

it's somewhere in town

and it's another somewhere in town. go there, find it by yourself. don't just read my blog. move your ass.