Minggu, 10 September 2017

IT :part one (2017) 8.8/10

“IT” is not for kids!
Ya, meski bercerita tentang petualangan anak-anak dan badut, tetapi jelas IT hanya patut ditonton oleh orang dewasa. tidak hanya narasinya yang mengandung kekerasan, candaan sarkas, dan seksual… tetapi juga tentu level ketakutan yang dihadirkan terlampau tinggi. Well I warn you, if you think you’re still a kid, don’t ever think to watch this movie.

Loser club. digitalspy.com

"IT" merupakan film yang diadaptasi dari novel klasik karya Stephen King dengan judul yang sama. Film tersebut juga merupakan pengerjaan ulang dari sebuah mini-series yang rilis pada 1990. King pernah menjelaskan bahwa kengerian terbagi dalam 3 tipe, yaitu the gross out, the horror, and the terror. Dalam film "IT", ketiga kengerian tersebut dihadirkan secara sekaligus dengan apik.

You will be surprised in a very wrong way. This movie will never let you breath. Selain masuk dalam drama mystery and suspense, menurut saya film ini juga masuk dalam jenis horror urban legend, survival, gore, psychological thriller, and monster. Wow, is that too much? No.

Why? Because –if you are horror freak, you know it already that- "IT" here stands for all kind of fears. Seperti penjelasan saya sebelumnya, akan ada beragam adegan menakutkan yang muncul. Bahkan saya yakin kamu akan benar-benar lelah karena kaget yang beruntun tanpa jeda. Ya, meski jump scare di film ini terhitung oh-my-lord-stop-it’s-too-much-help-me!, tetapi alur cerita masih mengalir dengan renyah. Give applause to Andy Muschietti, the director!

Jika kamu mengenal Muschietti sedari film "Mama", kamu akan dengan cepat menyadari bahwa inti cerita atau karakter drama dalam film "IT" sangat kuat. Jarang sekali saya menemui hantu yang bisa ngobrol dan berdiskusi seperti dalam "IT". Tidak hanya membuatmu ketakutan, Muschietti memberikan banyak petunjuk kecil agar kamu bisa tahu ujung dari keseluruhan cerita. Ia juga dengan rapi menyelipkan humor yang membuat film ini terkesan segar, juga tidak membosankan. Penempatan tersebut pun dapat menjadi kesempatanmu untuk menarik napas dan bersantai sejenak mengenang masa kecil dulu.

Bukan film jika tidak berbicara tentang sudut pengambilan gambar. Kamu akan menemui beberapa shot miring, pengambilan gambar jauh dari atas seperti sudut pandang mata burung, serta beberapa low level. Pernah menonton film "Oldboy"? Yep, Chung-hoon Chung is the one who planned all those shots. Kamu akan disuguhi dengan visual yang menenangkan, menegangkan, hingga menimbulkan kesan yang mengganggu (dalam arti yang positif ya, remember…it’s a horror movie)

[SPOILER ALERT]
Pennywise, the clown monster on this film, has a lot of forms. Karakter yang diperankan oleh Bill Skarsgard tersebut akan hadir dalam berbagai wujud. Salah satu wujud yang begitu menarik perhatian saya adalah Judith. This character is a bizarre woman, literally. Jadi saya berani bertaruh bahwa setelah menonton film tersebut, kamu tidak hanya akan khawatir dengan badut, tetapi juga akan terbayang-bayang dengan sosok Judith.

Berbicara tentang Pennywise sebagai tokoh utama, film ini tidak menjelaskan siapa sebenarnya badut ini. Jsyk, Pennywise merupakan makhluk yang berasal dari macroverse universe. Yes, Pennywise is alien and it is mortal! Itu sebabnya dia butuh makan tiap 27 tahun sekali. Untuk memenuhi kebutuhannya dalam mencari makan, Pennywise memiliki 6 kemampuan, which is shapeshifting, illusions, invisibility, mind control, regeneration, and telekinesis. Tenang, kamu akan mengetahui kemampuan tersebut satu per satu dari film.
[SPOILER ALERT]

Fun fact! Saya sudah menyebutkan sebelumnya bahwa Pennywise bangkit tiap 27 tahun sekali. Jika kamu cermat, ini adalah tahun ke 27 sejak mini series televisinya rilis. What a big long plan, right?

This film is just part one! Wohooo!!! Sengaja tidak dituliskan dengan gamblang pada judul memang. Namun, kamu akan mengetahuinya setelah menonton film ini.

Jika kamu jeli, beberapa adegan menampakkan mata kanan dan kiri Pennywise yang melihat ke arah berlawanan. Muschietti awalnya berencana untuk menggunakan CGI pada adegan-adegan tersebut, tetapi ternyata Skarsgard bisa melakukannya sendiri. Yes, it’s natural btch! Anyway, Bill Skarsgard ganteng. End of story.

What to prepare? Mungkin kalau kamu ingin tahu apa yang akan kamu temui di film ini, sebaiknya kamu menonton trailer dan tv series-nya terlebih dahulu. Atau setidaknya membaca novelnya. Unfortunately my recommendation is just come as you are! Keasyikan dalam film ini seolah seperti Rumah hantu, it’s not gonna be fun at all.

Oh ya! Sebisa mungkin jangan menutup mata ya. Perhatikan hal-hal kecil yang muncul tiba-tiba. You want a challenge? Ok then… saya tantang kamu menemukan 8 adegan dengan telur paskah di dalamnya. Eits, adegannya tidak ada yang beruntun ya! Selamat menonton! Have a hype!


Selasa, 05 September 2017

Jackals (2017) 3/10



“Jackals, sacrifices must be made” 
Well, I have sacrificed my one and almost a half hour for this film. Meski film ini mengeklaim dirinya sebagai based on true story movie, tetap saja menurut saya teror yang dihasilkan tidak seberapa.

Jackals members are showing up (horrorfreaknews.com)
Bercerita tentang sebuah kult pada 1980 dengan anggota yang tak segan membantai siapa saja, film ini tidak memberikan nilai historis yang mungkin dapat memandumu memahami keseluruhan cerita. Tidak akan ada penjelasan asal-muasal kelompok ekstrim tersebut, bahkan pemimpinnya pun entah dari mana. Tidak akan ada tokoh penting dari kult Jackals ini. Yes, they just straw dogs character. 

I love b-movie but not this one. Sang sutradara, Kevin Geutret, bukanlah orang baru di dunia film budget rendah. Namanya dikenal sejak mengerjakan film Saw VI dan Saw VII. Namun pada kasus ini, berangkat dengan gabungan jenis film horror gore, psychological thriller, slasher, dan survival, Jackals gagal memberikan keasyikan dari ragam adegan-adegannya. Ketika tidak ada karakter yang ditonjolkan, alangkah baiknya jika nilai lain seperti kedekatan, kekuatan cerita, atau variasi adegan digarap lebih. Unfortunately Geutret presents a repeated act. Ini yang membuat saya merasa Jackals memiliki durasi yang terlalu panjang

[SPOILER ALERT] Satu hal yang membuat saya kagum adalah adanya pemanfaatan alat-alat dapur sebagai senjata. Hal-hal cerdik seperti ini jarang saya temui di kebanyakan film horror survival. Pada film ini akan ada momen dimana tokoh-tokoh yang terancam dibantai tengah bercekcok, sembari tetap merakit senjata dari barang dapur seperti minyak, pisau, tusukan barbekyu, dan lain-lain.[SPOILER ALERT] 

Fun Fact! Tokoh utama dari film tersebut memiliki dua nama, yaitu Justin (nama pemberian keluarga) dan Thanatos (namanya di kult Jackals). Thanatos berarti to die, atau to be dying. Dalam mitologi yunani, Thanatos merupakan personifikasi kematian. Lagi-lagi, sayangnya penghadiran simbol tersebut tidak dikembangkan lebih jauh dalam cerita.

Well, this film tells about a brainwashed teenager named Justin. That’s why he loves his cult (Jackals) more than his family, more than everything. Film ini mengingatkan saya pada gerakan-gerakan ekstrimis di negara sendiri. bagaimana seseorang bisa seloyal itu terhadap sebuah kelompok, bahkan melakukan tindak kriminal yang mengerikan sekalipun. Well if Jackals is not a real true story, I think it might be someday. I hope not ofcourse.